Kamis, 23 Desember 2010

Vivre Ensemble


Konon kabar saat ini yang dapat menyatukan bangsa kita adalah Bencana Alam dan Sepakbola. Kedua kegiatan tersebut tentunya menyita perhatian dan perasaan kita, membuat empati dan merasa adanya perasaan yang sama. Namun apakah memang demikian ?
“Mungkin suatu hal yg agak keder jika persatuan itu hanya dibentuk oleh minat dan kerinduan terhadap TIMNAS jadi juara. Mengapa ? ini hanya menunjukan, betapa putus asanya kita, tak ada klagi yg mampu mempersatukan selain alasan itu, pantaslah kepedulian sosial menjadi tidak ada, anak bangsa menjadi sangat individualis, bahkan cuek terhadap sekitarnya”. Demikianlah umpatan Kang Sarpan.
Ditepian jakarta Utara kita bisa melihat sekumpulan rumah mewah yang nyaris tak lagi alami banjir, karena menggunakan mesin penyedot air. Belum lagi gedung gedung pencakar langit yang dijadikan tempat tinggal dengan view ke arah laut dan kekampung nelayan. Diseberangnya berdiri beberapa kampung hunian nelayan (Muara Angke – Muara Baru). Setiap hari terkena rob, bahkan tak pernah kering. Mereka hidup dengan segala kekumuhannya. Kedua penghuni tersebut (rumah mewah dan nelayan) pada setiap kali ada pertandingan TIMNAS selalu menonton, tentunya ditempat yang berbeda. Tapi merekapun tidak merasa senasib dan sepenanggungan, karena kesehariannya nyaris tak pernah bersinggungan, alias sibuk sendiri sendiri, kecuali hanya berharap TIMNAS menang.
Jadi benarkah sepak bola dapat mempersatukan Indonesia ? atau keberhasilan suatu PR dalam mempromosikan bisnis sepakbola ? atau hanyalah perasaan sesaat saja, dalam bentuk keinginan agar TIMNAS bisa menang ?
Menurut Dosen saya, : Indonesia didirikan oleh rasa senasib dan sepenanggungan. Terutama rasa ini terbentuk terhitung sejak VOC meninginjakan kakinya di tanah kita. Rasa yang benar-benar bersatu dan perlu melakukan tindakan bersama, dimulai ketika masa perintis kemerdekaan, dan baru berhasil pada masa Proklamasi. Padahal masa itu bencana alam dan sepakbola belum terkenal. Dan belum ada yang berani memasang dan mensejajarkan lambang Garuda dan Adidas di kaosnya.
Ernest Renan seorang Pujangga dan Guru Besar Universitas Sorbone Perancis mencakapkan pandangannya pada 11 Maret 1882, diberinya judul “Quest ce qu’une nation ?”. Menurutnya : bangsa itu soal perasaan, soal kehendak bersama untuk hidup bersama – Le desir de vivre ensemble, yang timbul antara segolongan besar manusia, yang nasibnya sama pada masa lampau, terutama dalam penderitaan-penderitaan bersama. Tentu bukan karena TIMNAS kalah terus di masa lalu, karena kalaupun menang terus belum tentu Si Dadap dan Si Waru jadi sejahtera. Mungkin bangsa kita perlu meresolusi tentang persatuannya, atau tentang Le desir de vivre ensemble, tidak hanya mengandalkan pada sekedar kemenangan TIMNAS, yang sifatnya sesaat, atau menuruti kehendak para PR dibidang binis sepakbola ????? .... wah ngelantur kejauhan nih !!! Salam.

Tidak ada komentar: