Rabu, 20 Juni 2012

Apakah Bangsa itu ?



Renan dianggap sebagai seorang cendekiawan yang menjadi acuan, dengan tulisan terkenal seperti Prière sur l'Acropole ("Doa di Akropolis", 1865) dan Qu'est-ce qu'une nation ? ("Apa itu bangsa?", 1882). Dia merumuskan paham bahwa suatu bangsa bukan hanya berdasarkan pada masa lampau bersama yang nyata, tapi juga pada kemauan hidup bersama : "Ce qui constitue une nation, ce n'est pas de parler la même langue, ou d'appartenir à un groupe ethnographique commun, c'est d'avoir fait ensemble de grandes choses dans le passé et de vouloir en faire encore dans l'avenir" ("Apa yang membuat satu bangsa, bukanlah menutur bahasa yang sama, atau menjadi bagian dari kelompok etnografis yang sama, tapi sempat membuat hal-hal besar pada masa lampau dan ingin membuat lagi hal-hal besar pada masa depan").

Apakah bangsa itu ?. Hal ini dipaparkan Renant di Sorbone pada tahun 1882, kemudian diterbitkan pada tahun 1887. Renan dikritik oleh beberapa akhli antisemitisme karena komentarnya. Renan menyatakan bahwa pikiran Semit dibatasi oleh dogmatisme dan tidak memiliki konsep kosmopolitan peradaban. Pada tahun 1883 esainya "Le Judaïsme comme ras et agama" ia membantah konsep bahwa orang Yahudi merupakan entitas rasial terpadu dalam arti biologis, yang membuat pandangannya dalam antisemitisme rasial. Renan juga dikenal sebagai seorang nasionalisme etnis Jerman, dengan nada antisemiticnya. Pengertian tentang ras dan etnis benar-benar bertentangan dengan antisemitisme Eropa dari abad 19 dan 20.

Renan menyimpulkan bahwa bangsa adalah : jiwa, prinsip rohani. Dua hal (jiwa dan prinsip rohani) benar-benar menyatu. Penyatuan juga terjadi antara masa lalu dan masa sekarang, memiliki harta karun yang kaya akan kenangan; merupakan kesepakatan bersama untuk hidup bersama, akan terus memberikan dan terbagi nilai-nilai dan warisan. Mereka memiliki saat-saat kejayaan dimasa lalu, yang masih melekat dimasa kini, untuk kemudian melakukan hal-hal besar secara bersama-sama, dan ingin berbuat lebih banyak, mereka sangat peduli terhadap kondisi sesamanya, mencintai bangsa, dan berani berkorban dan menderita untuk kepentingan bangsa.

Renan menyangkal, bahwa suatu bangsa berasal dari suatu ras, keturunan, persamaan bahasa, agama atau geografis, seperti apa yang dipahami banyak orang sampai saat ini. karena memang Renan penganjur teori subyektif tentang kebangsaan berdasarkan PERASAAN atau KEHENDAK BERSAMA, yang secara terang-terangan mencela teori kebangsaan obyektif, yakni suatu teori yang mendasarkan pada persamaa kebudayaa dan lainnya, sebagaimana ia jelaskan pada Bab III bukunya.

Pengaruh pemikiran Renan di Indonesia banyak digunakan oleh para perintis kemerdekaan pada tahun 1928 an. Hal ini terdokumentasiikan didalam surat Kabar Persatoean Indonesia yang tertib pada tahun-tahun tersebut. dengan demikian tulisan Renan yang berjudul Qu'est-ce qu'une nation ?  memiliki andil dalam membentuk pemikiran dalam Kongres Pemuda yang dicapai tanggal 28 oktober 1928, tahun dimana bangsa Indonesia menyatakan satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa Indonesia.  

Tidak ada komentar: