Rabu, 20 Juni 2012

Komunitas Imajiner



Buku : Komunitas-Komunitas Imajiner,
Renungan tentang Asal-Usul dan Penyebaran Nasionalisme
Pengarang : Benedict Anderson


Komunitas dalam dunia nyata biasanya nampak dari sekumpulan orang, seperti pecinta motor, sepeda atau yang biasa ngobrol di warung pada sore hari atau pagi hari. Perkembanganya komunitas itu bergerak-kebanyakaan ke arah yang positif, seperti komunitas pecinta motor melakukan bakti sosial atau memberikan pelatihan safety ridding. Komunitas pun seakan hadir menjadi dunia yang lain, bagi orang-orang yang sedang hidup pada abad ini. Apalagi seiring perkembangan internet, sebagai ruang yang bebas, kemunculan komunitas pun menjadi lebih agresif dan massif. Seperti dalam komunitas-komunitas di face books dan twiter.

Komunitas Imajiner disini mengandung arti kesatuan hidup (manusia) dalam wilayah geografis yang batas-batasnya tertentu, yang (sebagaimana) dipahami (conceived), dipikir (thoucht), dicerap sebagai gambaran mental (surmised mental image) oleh orang-orang yang bersangkutan (yang menganggap diri terlibat di dalam kesatuan hidup itu atau menganggap dirinya sebagai anggota).

Dalam membahas buku ini, Anderson menggunakan kata imajiner dipakai bergantian dengan kata bayangan, dalam kerangka yang sama. Dalam makna iniliha Anderson mengemukakan, bahwa Idonesia merupakan komunitas imajiner kita. Namun benarkan demikian ?.

Anderson menjelaskan, bahwa : Sasaran buku ini adalah untuk menawarkan beberapa saran sementara kearah penafsiran-penafsiran yang lebih memuaskan tentang anomali nasionalisme. Perasaan saya mengatakan bahwa dalam tema ini, baik teori Marxis maupun Liberal sama-sama berkubang dalam upaya Ptolomian penghabisan untuk menyipan fenomena itu; bahwa perubahan arah pandang dengan jiwa kopernikan benar-benar mendesak dan musti dilaksanakan. Titik keberangkatan saya adalag bahwa nasionalisme (nationality), ataumungkin orang lebih suka melihatnya dalam kerangka signifikansi jamak kata itu sendiri, kenasionalan (nation-ness); sama halnya dengannasionalisme, adalah artefak-artefak budaya (sejajar dengan benda-benda temuan arkeologis yang menunjukan kecakapan kerja manusia) jenis tertentu. Demi memahami, sebaiknya perlu berhati hati bagaimana mereka ada secara historis, bagaimana makna-maknanya berubah seiring perjalanan waktu, dan mengapa, sekarang ini, mereka mengugah emosional yang sedemikian dahsyat.

Buku ini berupaya membuka budaya yang telah mampu membangkitkan rasa keterikatan yang begitu mendalam ..........

Tidak ada komentar: