Selasa, 16 Oktober 2012

Sejarah Seperti (akan) Berulang

Istilah sejarah (History) berasal dari bahasa Arab, yakni Syajaratun yang berarti pohon, sedangkan istilah history berasal dari kata Yunani yakni Histories, yang mberarti satu penyelidikan ataupun pengkajian. Menurut Herodotus, Sejarah adalah suatu kajian untuk menceritakan sekitar jatuh bangunnya seseorang tokoh, masyarakat dan peradaban. Hal ini mengikuti definisi yang diberikan Aristoteles, bahawa Sejarah adalah suau sistem yang mempersepsikan kejadian awal dan tersusun dalam bentuk kronologi. Sejarah juga mewrupakan peristiwa-peristiwa masa lalu yang mempunyai catatan, data-data atau bukti-bukti yang sahih.

Sejarah pemahaman lainnya digunakan untuk mengetahui masa lalu berdasarkan fakta-fakta dan bukti-bukti kebenaran manusia agar dimasa kini dan yang akan datang hidupnya lebih baik. Untuk itu manusia atau kelompok akan memeiliki kewaspadaan, dengan mempelajari sejarah dapat membentuk sikap tersebut terhadap permasalahan yang dihadapi agar peristiwa-peristiwa yang terjadi dimasa lampau dapat dijadikan pelajaran yang bermanfaat. Pengertian Sejarah dapat pua dilihat dari tiga dimensi, yakni epistomologi (kata akar), metodologi (kaidah sejarah yang dipaparkan) dan filsafat atau pemikiran peristiwa dimasa lampau untuk diketahui dan ditentukan benar atau salah, baik atau buruk.


Didalam nilai-nilai kehidupan masyarakat sering mendengar kisah berulangnya suatu sejarah, dari kelahiran, kejayaan sampai dengan keruntuhannya. Seperti mempersepsi tentang masa mendekati kehancuran suatu negara yang kondisinya dipersamakan dengan gejala awal ambruknya negara tersebut dimasa lalu, atau ibarat menafsirkan lingkaran setan, yang bertemu antara awal dengan akhirnya. lperpegas, melingkar keatas, tidak seperti gelang. Sejarah Berulang (Repeating History) diartikan sebagai satu keadaan di mana peristiwa-peristiwa sejarah yang pernah ada pada masa dahulu terjadinya lagi pada masa sesudahnya, dan dianggap sebagai gejala yang berulang ulang. Namun memangkah demikian ?

Salah satu contoh yang dianggap sejarah berulang adalah kebangkitan dan keruntuhan Marxist Rusia. Sebelum tahun 1870, Rusia memang berada dalam era keruntuhan, yang puncaknya dari ketidakseimbangan politik Rusia dan keburukan kepemimpinan Tsar. Rusia adalah negara yang besar di dunia, memiliki luas wilayah 22.402.000 km persegi. Dibawah rejim marxist Rusia mampu keluar sebagai kekuatan perang dingin pasca terjadinya Perang Dunia Kedua (1945), dan mampu bertahan hingga tahun 1980 an. Untuk kemudian mengalaami krisis ekonomi yang tak mampu dihindarkan. Akhirnya, pada tahun 1990 secara resmi Uni Soviet pun bubar. Tentunya diperparah oleh adanya kehendak dari dalam negeri yang bermimpi indahnya sistim ekonomi barat. Rusia pada akhirnya menggunakan sistim kapiltalisme yang sangat radikal dan telanjang, namun ternyata hanya mampu bertahan beberapa minggu. Untuk kemudian kembali menggunakan sistim ekonomi yang disebutnya Kapitalisme Negara, bahkan saat ini disebut-sebut sudah ada gejala bangkitnya kembali Komunisme di Rusia.

Contoh yang sering dikaitkan sebagai sejarah berulang adalah lingkaran Demokrasi; Oligarkhi; dan otokrasi. Sirkulasi ini akibat tidak disadari penyebabnya, atau tidak diwaspadainya perubahan atau tidak dikawalnya suatu perubahan kedalam suatu kondisi yang memenuhi syarat indikator disebut sebagai kemajuan. Demokratisasi adakalanya dibaca sebagai kebebasan yang tidak ada batas, semua boleh dan semua sah, bahkan pengendalian pun dianggap pengekangan dan anti demokrasi. Persoalannya akan menjadi runyam ketika diberlakukan untuk urusan politik ekonomi, yang dapat melahirkan persaingan bebas, perlindungan atau proteksi kepada siapapun, termasuk kepada si lemah, si dadap, siwari, karena akan dianggap pemihakan dan melanggar kebebasan (persaingan). Sudah barang tentu siapapun yang kuat akan keluar sebagai pemenang. Sudah berang tentu pula gap kaya – miskin semakin menganga, dan kemakmuran negeri hanya dikuasai oleh sedikit orang, namunjumlah orang miskin akanbertambah. Sudahlah tepat ketika malaysia langsung mengunci nilai ringgitnya pada masaa awal krisis dengan sistim CBS, sementara di Indonesia malah membiarkan rupiah diombang-ambing pasar, karena takut disebut anti demokrasi. Sangat tepat ketika Rusia langsung sadar dan mengambil jalan kapitalisme negara, untuk kemudian ditiru China, hingga kina keduanya mencatat pertumbuhan ekonomi dan memiliki cadangan devisa yang lumayan tinggi.

Demokrasi tanpa pemerintahan yang kuat (sistim maupun kepemimpinan) dapat menimbulkan chaos, kekacauan, dan sulitnya pemerintahan mengambil suatu keputusan-keputusan penting, karena takut dioposisi. Namun demokrasi pun membutuhkan kesadaran para pihak, termasuk segenap warga untuk saling berbagi hak dan posisinya. Memang demokrasi butuh kedewasan berpikir.

Kekacauan akibat demokrasi seperti nampak di Indonesia saat ini. Setiap hari kita mendengar sumpah serapah yang tidak terbatas, baik yang disuguhi media massa maupun dijalan raya. Maka wajar jika masyarakat mengidamkam kembali sosok pemimpin yang kuat, berwibawa dan berani mengambil keputusan yang cepat dan tepat. Sama halnya dengan kerinduan hadirnya sosok pimpinan tegas seperti Prabowo, atau kembalinya sosok Soeharto. Akan tetapi ini pun bukan tidak memiliki akibat, karena untuk alasan stabilitas negara maka negara atau seorang pemimpin dapat memberlakukan kontrol terhadap para oposan dan kebebasan warganya. Jadi wajar pula ketika demokrasi nantinya dipersepsikan akan bergulir kembali menjadi Oligarkhi (jika dipimpin oleh sekelompok orang) atau otokrasi (semacam masa akhir rejim orba), paling tidak demokrasi akan kembali dibawah sepatu Lars.


Saya mungkin agak berpikir tentang kegagalan suatu sistim demokrasi seperti saat ini, lambat laun akan bergulir menjadi otoriter, tapi ini tidak akan mutlak terjadi jika sistim demokrasi ditopang oleh faktor penghormatan terhadap kemanusiaan dan penegakan hukum. Atau dalam cara lainnya, menyeimbangkan, satu nafas, antara kebebasan, persamaan dan persaudaraan, tanpa saling mengorbankan. Akan tetapi dapatkah setiap manusia menahan diri untuk memperkokoh demokrasi dalam keadaan perut kosong ?, atau mampukah demokrasi dipertahankan dalam kondisi masyarakat yang sudah mulai chaos ?. terutama ketika kaum intelektualnya lebih memilih berteriak daripada berunding ?.

Bagi manusia siapapun harapan harus tetap ada. Tanpa harapan maka manusia itu sendiri sudah mati. Selamat berdemokrasi.

Tidak ada komentar: